do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none;

Selasa, 29 Oktober 2013

Atur Strategi Sebelum Memulai Investasi

Ketika seseorang merasa memiliki dana lebih, mereka akan berpikir bagaimana memanfaatkan dana lebih tersebut. Ada juga yang berpikir bagaimana memperbanyak atau meningkatkan nilai dari dana tersebut.

Investasi menjadi kata yang sudah tidak asing didengar, tapi sejauh mana memahami investasi yang sebenarnya. Atau, jika seseorang memiliki uang lebih besar dari yang dibutuhkan untuk biaya hidup, dia bisa memilih untuk berinvestasi.

Ini berarti seseorang membeli aset dan diharapkan dari aset tersebut akan menghasilkan pendapatan. Ketika menjualnya, seseorang mengharapkan akan ada keuntungan.

Lalu, bagaimana dengan risiko berinvestasi? Investasi apa pun bisa dipastikan mengandung risiko. Sangat mungkin seseorang tidak mendapatkan pendapatan apa pun. Juga sangat mungkin bahwa seseorang akan rugi saat menjual investasi.

Berdasarkan data Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK), ada beberapa tipe aset yang bisa dijadikan investasi:

Pertama, jika seseorang memiliki cukup uang, dia bisa membeli properti seperti rumah atau toko, mencari penyewa, menerima pendapatan sewa secara teratur, dan menjual properti tersebut di kemudian hari. Jika seseorang membeli properti di lokasi yang strategis, penyewa akan banyak yang tertarik untuk menyewa properti itu, dan pendapatan sewa otomatis akan naik.

Pada umumnya, nilai properti akan semakin meningkat seiring dengan waktu. Jadi, ketika seseorang menjualnya, dia bisa berharap akan menerima keuntungan. Sebagian orang menganggap dengan berinvestasi di properti, risiko investasinya rendah.

Kedua, seseorang bisa membeli kendaraan dan menyewakannya ke pihak lain. Seseorang akan mendapatkan uang sewa yang setara dengan biaya pemeliharaan dan keuntungan yang diinginkan. Tentu, dia harus membayar asuransi dan biaya perbaikan.

Untuk kendaraan, jumlah yang diterima saat seseorang menjualnya akan lebih rendah dibanding saat membelinya. Kendaraan bekas nilainya lebih rendah dibanding kendaraan baru.

Namun, di balik itu, ada beberapa kelemahan dari aset yang akan diinvestasikan. Di antaranya, aset-aset tersebut memerlukan dana dalam jumlah besar. Kebanyakan, orang tidak memiliki uang dalam jumlah besar. Dan sebagian orang juga tidak memiliki waktu atau kemampuan untuk mengelola aset secara baik.

Nah, bagaimana jika seseorang tertarik berinvestasi di bidang lain? Di pasar keuangan seperti saham dan obligasi misalnya. Bagi pemula, apa yang harus diketahui?

Masyarakat dengan dana terbatas bisa memilih untuk berinvestasi di saham atau obligasi. Namun, sebelum memutuskan untuk berinvestasi di aset tersebut, sebaiknya membaca prospektus yang dipublikasikan.

Selanjutnya, sebagai investor, seseorang baru bisa memutuskan tipe saham seperti apa yang akan dibeli.

Perlu diketahui, perusahaan menerbitkan saham dan obligasi untuk memperoleh dana bagi kelangsungan bisnisnya. Saat investor membeli obligasi suatu perusahaan, dia akan menerima pembayaran bunga dari penerbit obligasi hingga jangka waktu tertentu (term of maturity).

Dengan kata lain, seorang pemegang obligasi (bondholder) menerima pendapatan tetap dari perusahaan, pada saat yang ditentukan, dan dengan tingkat suku bunga yang telah disepakati.

Umumnya, berinvestasi di obligasi dianggap lebih rendah risikonya dibandingkan dengan saham, karena adanya pembayaran teratur yang telah disepakati.

Obligasi juga bisa diterbitkan oleh lembaga pemerintah. Obligasi pemerintah ini dianggap lebih aman dibanding obligasi perusahaan. Karena lebih aman, bunga yang dibayarkan menjadi lebih kecil dibanding bunga obligasi perusahaan.

Untuk itu, ini disarankan bagi investor yang tidak banyak mengetahui tentang seluk beluk investasi. Pada umumnya, investor cenderung membayar ongkos jasa atau fee ke manajer investasi yang profesional guna memilihkan obligasi atau saham dan selanjutnya dimasukkan dalam portofolio reksa dana.

Risiko berinvestasi di reksa dana hampir sama dibandingkan bila berinvestasi secara langsung pada obligasi atau saham. Oleh karena itu, investor juga bergantung pada keahlian manajer investasi untuk memilih obligasi atau saham yang tepat. (*/VIVA.co.id)
Posting Komentar