do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none;

Selasa, 29 Oktober 2013

Inilah Prinsip Dasar Investasi

Tak ada yang dapat menyangkal krisis utang Yunani yang merembet ke Spanyol telah membawa dampak besar terhadap perekonomian dunia. Pertumbuhan ekonomi China, negara penyerap terbesar komoditas global, turun menjadi hanya 7,6% pada kuartal II/2012.

Permintaan komoditas pun ikut merosot dan berimbas pada turunnya harga bahan baku. Mengingat dua pertiga ekspor Indonesia masih didominasi komoditas, penurunan harga tersebut berimplikasi pada turunnya nilai ekspor sehingga neraca perdagangan dan neraca berjalan kita mengalami defisit pada tahun ini. Pada saat yang sama, meningkatnya ketidakpastian global membuat investor memilih memegang mata uang kuat.

Nilai tukar rupiah pun anjlok signifikan dari Rp8.500 menjadi Rp9.500 per dolar AS dalam setahun terakhir. Di balik dua kabar negatif mengenai ekonomi di atas, untungnya masih ada berita positif mengenai pertumbuhan ekonomi kita yang masih 6,4% pada kuartal II/2012, inflasi year to date yang 2,5%, dan investasi langsung asing (Foreign Direct Investment/FDI) yang melonjak tinggi.

Di tengah keterpurukan ekonomi global dan kemampuan bertahannya perekonomian Indonesia, investor mesti menyadari bahwa prinsip investasi dalam semua aset, baik riil maupun finansial adalah sama. Berikut tiga prinsip dasar investasi yang perlu Anda ketahui.

Membandingkan nilai dan harga

Pertama, investasi itu tidak lain adalah membandingkan nilai dan harga.Investor di mana pun ingin mencari aset yang nilainya jauh di atas harganya dan ingin menerapkan strategi buy low and sell high. Prinsip ini tidak lekang oleh waktu. Definisi sederhananya, harga adalah sesuatu yang kita bayar sedangkan nilai adalah sesuatu yang kita peroleh. Masalahnya, tidak seperti harga yang ada di depan kita, nilai aset itu unobservable.

Tidak ada formula pasti untuk menghitung nilai aset, kita hanya mampu mengestimasinya. Seseorang bersedia membeli tanah, rumah, ruko, atau usaha tertentu untuk investasi karena memandang nilainya melebihi harga yang dibayarkan. Di pasar keuangan, investor lihai yang membeli saham, ORI, sukuk ritel, dan obligasi, juga memegang prinsip yang sama. Demikian juga di pasar tenaga kerja.

Banyak orang bersedia membayar biaya besar untuk memperoleh pendidikan berkualitas karena menimbang nilai atau gaji yang akan diterimanya kelak. Dalam jangka pendek, harga dapat saja menyimpang jauh dari nilainya baik kemahalan karena pelaku pasar terlalu optimistis maupun kemurahan saat investor takut, panik, atau pesimistis berlebihan. Namun, dalam jangka panjang, saya percaya harga akan konvergen menuju nilainya.

Tidak hanya dalam investasi,perbandingan nilai dan harga juga diterapkan saat seseorang membeli barang dan jasa, saat perusahaan menentukan gaji karyawannya, dan saat karyawan memutuskan bertahan di perusahaan tempat bekerjanya.

Maksudnya adalah, ketika ingin bepergian dengan pesawat, makan di restoran mewah, menginap di hotel berbintang,membeli peralatan elektronik, dan memilih kendaraan pribadi, kita selalu membandingkan nilai dengan harga atau menghitung value for money-nya. Tidak ada perusahaan yang bersedia membayarkan gaji seseorang di atas nilai orang itu.

Di sisi lain, seorang karyawan yang merasa nilai dirinya tinggi juga tidak akan mau menerima pekerjaan dengan gaji yang jauh lebih rendah. Dia akan mencari perusahaan atau pekerjaan yang menggajinya sesuai dengan nilai dirinya.

Beli yang Anda pahami

Kedua, dalam berinvestasi, buy what you know and know what you buy. Mereka yang membeli produk keuangan fiktif yang menjanjikan return fantastis hingga menderita kerugian besar sangat mungkin gagal untuk menerapkan prinsip ini. If it sounds too good to be true, it is indeed too good to be true. Jika tidak memahami produk derivatif, Anda jangan tergoda bermain opsi dan macam-macam perdagangan indeks yang marak ditawarkan. Jika tidak suka zero-sum game yang adalah spekulasi mendekati judi, Anda jangan pernah mencoba forex trading.

Pertumbuhan return positif

Ketiga, prinsip terakhir dalam berinvestasi adalah carilah aset yang returnnya positif (necessary condition) dengan pertumbuhan return yang juga positif (sufficient condition). Return positif terjadi jika turunan pertama fungsi harga adalah positif yaitu jika harga aset naik dari tahun ke tahun. Pertumbuhan return positif akan ada jika turunan kedua bernilai positif.Tidak sulit mencari alternatif investasi yang mampu memberikan return positif. Sebagian besar properti atau saham memenuhi kriteria ini, tetapi tidak banyak properti dan saham yang mampu memberikan pertumbuhan return positif.

Misalkan sebuah properti mempunyai fungsi harga dalam beberapa tahun ke depan sebagai berikut Rp200 juta, Rp220 juta, Rp240juta, Rp 260 juta. Return properti itu adalah positif yaitu Rp20 juta per tahun tetapi pertumbuhan return adalah nol. Properti ini memenuhi necessary condition, tetapi tidak memenuhi sufficient condition karena pertumbuhan return-nya nol secara nominal. Secara relatif (persentase), turunan keduanya bahkan negatif.

Secara relatif, fungsi return-nya adalah 10% (20/200), 9,09% (20/220),dan 8,33% (200/240) sehingga pertumbuhan return adalah negatif. Karena itu, properti tersebut kurang menarik. Properti bagus dan layak koleksi adalah yang mampu memberikan return tahunan positif dan pertumbuhan return (turunan kedua), secara nominal dan relatif, yang juga positif.

Contoh properti seperti ini adalah yang fungsi harganya Rp200 juta, Rp220 juta, Rp260 juta, Rp350 juta, dan seterusnya. Return setinggi ini tidak akan diperoleh jika Anda membeli pada harga terlalu tinggi di atas nilainya.

Kesimpulannya, prinsip dasar investasi itu adalah mencari aset yang kita pahami yang nilainya jauh di atas harganya sehingga ke depan baik return (turunan pertama) maupun pertumbuhan return (turunan kedua) akan positif. (*/Harian Seputar Indonesia)
Posting Komentar