do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none;

Selasa, 29 Oktober 2013

Entrepreneur, Kendalikan Optimisme Anda!

Meskipun dalam masa sulit, entrepreneur memiliki optimisme yang meluap-luap. Namun terlalu banyak optimisme bisa membutakan kita terhadap kendala yang menghadang di depan.

Pertimbangkan temuan sebuah survei terbaru berikut ini. Sebanyak 5.000 CEO yang ditanyai oleh majalah Inc, sekitar 85% responden menggambarkan perusahaan mereka sebagai perusahaan yang kuat atau sangat kuat. Hanya 25% responden yang mengatakan ekonomi AS masih bisa dikatakan kokoh. Bahkan keadaan ekonomi yang terburuk dalam 80 tahun terakhir ini dianggap tak akan bisa mengalahkan para pemilk bisnis tersebut.

Bila Anda kebetulan adalah seorang entrepreneur terutama entrepreneur pemula, akan lebih bijak bagi Anda untuk tetap mengendalikan rasa optimistis dalam benak Anda. Ini bukan berarti bahwa Anda harus berhenti bersikap optimis sama sekali.

Optimisme adalah sikap yang baik. Anda tak akan bisa membangun bisnis tanpanya. Namun kecuali jika diimbangi dengan pemahaman atas kenyataan yang ada, optimisme bisa membutakan Anda dan membuat Anda mengambil risiko yang tak terukur. Dalam fase awal sebuah usaha rintisan, optimisme yang berlebihan biasnaya berwujud sebagai proyeksi penjualan yang terlalu bombastis, yang akhirnya menimbulkan estimasi yang kurang tepat mengenai berapa jumlah modal yang diperlukan oleh usaha yang bersangkutan, dan ini bisa menggiring usaha menuju kebangkrutan karena kehabisan uang kas.

Proyeksi penjualan yang terlalu optimis juga bisa menimbulkan masalah selama fase ekspansi sebuah bisnis, tetapi bahaya yang lebih besar yang ada ialah bahwa Anda tak perlu memperhitungkan semua hal yang bisa jadi salah dengan rencana pertumbuhan Anda.

Entrepreneur perlu menimbang segala pro dan kontra sebelum membuat sebuah keputusan. Untuk mencegah hal ini terjadi pada usaha rintisan Anda, terapkan dua aturan berikut: lindungilah bisnis Anda dan jangan pernah mengambil keputusan berdampak besar tanpa keadaan pikiran yang jernih.

Aturan pertama, jika Anda memiliki sebuah bisnis yang visiable, lindungi usaha Anda itu. Jangan lakukan apapun yang akan membahayakannya. Yang terpenting, hindari peluang apapun yang bisa membawa bisnis Anda menuju kebangkrutan jika tidak bisa terlaksana sesuai rencana.

Aturan kedua, selalu gunakan pikiran jernih untuk membuat sebuah keputusan jernih. Untuk bisa memperoleh kejernihan dalam berpikir, kita bisa gunakan berbagai cara. Sebagian orang bisa berpikir jernih setelah mandi, sebagian lainnya bisa berpikir jernih dalam keheningan, sebagian lain bisa berpikir lebih baik saat tidak berada di kantor. Jangan terburu-buru membuat keputusan. Tundalah pemberian keputusan untuk memikirkan masak-masak hingga setidaknya 1-2 hari.

Dengan menggunakan kedua aturan ini, peluang untuk membuat kesalahan memang tak akan 100% hilang tetapi setidaknya akan mengurangi peluang untuk membuat kesalahan besar yang membahayakan keberlangsungan usaha baru Anda. (*/Akhlis)
Posting Komentar