do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none;

Senin, 28 Oktober 2013

Tanpa Cara Licik, Entrepreneur pun Bisa Sukses!

Perlukah Anda menjadi seorang pribadi yang menjengkelkan dan kurang bersahabat serta berorientasi keuntungan sepanjang waktu saat ingin mencapai kesuksesan sebagai seorang entrepreneur? Pertanyaan ini mungkin pernah muncul di benak Anda. Seperti kita tahu, dunia bisnis adalah ekosistem yang kejam. Dan sebagian orang merasa merasa perlu menggunakan kelicikan sebagai alat untuk berhasil seperti halnya prinsip-prinsip yang digunakan Niccolo Machiavelli dalam dunia politik dan kekuasaan.
Ben Austen dari laman WIRED menyatakan dalam tulisannya bahwa penggunaan kelicikan itu sangat perlu dalam mencapai puncak sukses jika seorang entrepreneur tidak mau menjadi seorang pebisnis yang biasa-biasa saja dan kurang dikenal dan sukses di mata masyarakat. Ia berusaha meyakinkan pembaca dengan memberikan sederet contoh nyata dari perjalanan bisnis alm. Steve Jobs. Diceritakan bahwa di tahun 1975 Jobs pernah bekerjasama dengan Steve Wozniak dalam mengerjakan game Breakout dengan bayaran dari Atari. Wozniak memilih jalan yang lurus dengan mengerjakannya 4 malam berutur-turut tanpa istirahat, sementara Jobs menempuh cara lain yang lebih 'cerdas'. Ia tak bekerja sekeras Wozniak dan ia mengantongi bonus dari Atari karena dianggap telah berhasil mengerjakan sebuah desain yang efisien. Dan masih banyak contoh lain yang menunjukkan bagaimana Jobs menuntut performa terbaik dari tim perusahaannya, dan intinya, memanfaatkan semua pihak di sekitarnya untuk membawa bisnisnya pada kejayaan. Apakah kita perlu mengikuti jejak Jobs yang demikian?
Tidak!, demikian sanggahan dari Vinod Khosla. Khosla sang investor legendaris ini dalam tulisannya Do You Need To Be a Jerk To Be a Successful Entrepreneur?" dalam lamanTechcrunch.com Khosla berargumen panjang lebar untuk meyakinkan para entrepreneur di luar sana bahwa kelicikan semacam itu bukanlah sebuah karakteristik yang harus dimiliki oleh entrepreneur jika ingin sukses besar.
Menurut Khosla, yang paling penting bagi entrepreneur ialah bahwa mereka tak perlu mengorbankan kepribadian yang menyenangkan bagi semua orang untuk meraih puncak sukses. Tak ada model ideal yang harus ditiru dalam menjadi entrepreneur, ujarnya.
Apa yang lebih penting bukan pribadinya tetapi karakteristik inti dari entrepreneur, lanjut Khosla. Ia kemudian menggarisbawahi sejumlah karakteristik penting yang perlu dimiliki entrepreneur tanpa harus menggunakan strategi dan taktik penuh kecurangan dan ketidakadilan dalam menjalankan bisnis.
Bangun tim yang kompak
Entrepreneur yang biasanya juga merangkap sebagai pendiri bisnis perlu membangun sebuah tim yang solid. Dan untuk itu, entrepreneur perlu menguasai seni membangun tim yang kompak dan pada saat yang sama menyaring anggota-anggota tim yang kurang memenuhi syarat dalam posisi mereka untuk dipindahkan ke posisi lain yang lebih sesuai dengan kemampuan dan kinerjanya.
Tetap tegas, objektif dan jujur
Seorang entrepreneur, terang Khosla, harus memiliki kemampuan untuk menunjukkan ketegasan, objektivitas dan kejujuran dalam menjadi nahkoda dalam menjalankan kapal bisnisnya. Entrepreneur bahkan perlu bersikap objektif pada dirinya sendiri sehingga si entrepreneur yang bersangkutan tidak sibuk mendorong orang lain untuk bekerja sekeras mungkin sementara ia sendiri justru memperburuk situasi. Menjadi pengkritik boleh saja tetapi entrepreneur bisa melakukannya dengan cara yang lebih netral, tidak merendahkan siapapun, termasuk dirinya sendiri di hadapan orang lain.
Berpikiran terbuka
Masih berhubungan dengan poin di atas, Khosla menjelaskan kritik hendaknya disampaikan dengan pikiran yang terbuka, ditujukan untuk memperbaiki situasi dan kesalahan bukan untuk mencari biang keladi. Page, Brin dan yang lain berbeda dari Jobs. Mereka tak perlu bersikap menjengkelkan di hadapan karyawan karena mereka lebih mengandalkan diskusi dengan pikiran yang terbuka dan logis. Dengan demikian, karyawan yang berkualitas akan lebih setia, karena hasil kerja mereka dihargai, dan bagi mereka yang kurang prima dalam bekerja, akan dipindahkan di posisi lain yang lebih sesuai dengan kemampuannya.
Menolak jika harus mengkompromikan visi
Entrepreneur sejati tidak pernah mau tunduk dengan paksaan untuk menurunkan visinya. Namun untuk memperbaiki yang harus diperbaiki di dunia ini membutuhkan orang-orang yang tak mau menyerah pada batasan dan menerima keterbatasan kekuasaan/ tenaga mereka, katanya.
Entrepreneurship adalah gaya hidup
Memahami entrepreneurship sebagai sebuah gaya hidup bukannya pekerjaan membuat kita memiliki sikap dan pola pikir yang lebih mengutamakan prioritas dan tujuan yang hendak dicapai. Saat kita berpikir seperti itu, kita tidak akan merasakannya sebagai sebuah pekerjaan.
Keseimbangan kehidupan pribadi, keluarga dan bisnis
Khosla menegaskan bahwa entrepreneur harus bersikap jelas dan objektif dalam melakukan apapun dalam kehidupannya. Jika itu bisa dilakukan, memiliki kehidupan pribadi, keluarga dan bisnis yang sama suksesnya bukan hal yang mustahil. (*AP)
Posting Komentar