do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none;

Selasa, 23 Oktober 2012

Apa Penyebab Anda Tidak Kreatif dan Pintar?


Ada beberapa hal yang kedapatan menutup pikiran seseorang, diantaranya:
1. Berfikir absolut dalam hal-hal yang tidak semestinya.
Seseorang yang terlalu terbiasa menggunakan brand atau merk tertentu kadangkala kebingungan sewaktu berbelanja di toko dan kebetulan stok barang yang dibutuhkannya habis. Banyak juga salesman yang menawarkan dan menjual barang atau jasa dengan cara yang begitu-begitu saja dari tahun ke tahun. Seakan-akan hanya cara itulah yang paling manjur yang ada di dunia ini.
2. Merasa cukup dengan satu kategori, sebuah asumsi atau satu pendapat
Suatu ketika seorang nenek memberitahu dokter bahwa di batok kepalanya kadang-kadang ada ular yang merayap dan menyebabkan rasa nyeri yang tiada henti. Sang dokter mengatakan bahwa itu cuma omong kosong dan mendiagnosa sebagai tanda-tanda kepikunan. Keluarga si nenek mempercayai begitu saja keterangan itu yang mereka pandang sebagai pendapat ahli. Hanya setelah diotopsi barulah ketahuan bahwa orang yang dicap sudah pikun itu menderita kanker otak. Sayangnya semua sudah terlambat. Si nenek tinggal kenangan yang membekaskan kepiluan dan rasa sesal pada anggota keluarganya itu selama bertahun-tahun. Sesal kemudian tiada berguna.
3. Menghafal dan terkungkung pada skrip atau teks di luar kepala
98 orang tewas dalam peristiwa jatuhnya pesawat Air Florida di Washington D.C pada bulan Januari 1982. Pesawat ini ditangani oleh awak yang berpengalam dan rutin terbang dari Washington ke Florida. Penyelidikan lebih lanjut menyimpulkan bahwa sang pilot dan co-pilot terbukti tetap berdisiplin seperti biasa; memeriksa keadaan pesawat dan memastikan keamanannya menjelang tinggal-landas. Hanya saja mereka tidak menghidupkan sistem anti-salju mesin pesawat karena tidak menyadari sedang berada di musim dingin bersalju. Checklist prosedurnya belum diganti, masih prosedur pemeriksaan untuk musim panas, bukan untuk musim salju.
4. Menganut pola pikir sama rata-sama rasa semacam ’sweeping generalisation’ atau ’over generalisation’
Orang sering berlebihan menyukai atau tidak menyukai sesuatu atau seseorang hanya karena satu dua hal yang dianggapnya tidak menyenangkan, sementara yang hal-hal lain tidak dipertimbangkannya. Dengan memaksa diri mencari tahu penyebab khusus sumber ketidaksukaan atau kesukaannya, seseorang dapat meningkatkan kemampuannya dalam memecahkan beragam masalah hidup dan pekerjaannya.
”Saya tidak suka berkerja di kantor ini. AC-nya terlalu dingin, jadi masuk angin terus.’ Hanya karena sebuah AC yang dingin? Tentu dia bisa mengenakan jaket atau jas di tempat kerja. ”Pemirsa ingin mengetahui pendapat Anda”. ”Sinetron ini favorit dan pilihan pemirsa”. Pemirsa yang mana? Siapa pemirsanya? ”Si Anu adalah Bapak Bangsa”. ”Bapak masih dipercayai oleh bangsa Indonesia untuk menjadi presiden”. Bangsa Indonesia yang mana? Karenanya, sang presiden terdahulu dijatuhkan.
5. Keterpakuan pada satu konteks
Ketidak mampuan melakukan sesuatu sering menggiring orang untuk menghakimi dirinya sebagai orang yang tidak mampu atau tidak trampil. Dia tidak menyadari bahwa ada bidang-bidang lain yang bisa dikerjakannya dengan baik. Dengan ’mereframe’ (merubah sudut pandang) permasalahan sering terlihat lain. Umpamanya ketika diomongin orang kita tidak perlu merasa sakit hati. Bukankah dosa-dosa kita menjadi berkurang? Atau paling tidak kita dapat belajar untuk berhati-hati kedepannya. Terutama ketika berhadapan dengan orang yang suka ngomongin keburukan orang lain itu.
Kita harus berprilaku sewaspada, sekreatif dan seinovatif mungkin dan terus-menerus menyerap informasi dan perspektif baru agar lebih mudah dan lebih cepat mencapai tujuan dan mewujudkan impian yang dicita-citakan.




Posting Komentar