Selasa, 23 Oktober 2012

Perilaku Inovatif Tinggi


Memiliki Perilaku Inovatif Tinggi
Menjadi wirausaha yang handal tidaklah mudah. Tetapi tidaklah sesulit yang ibayangkan banyak orang, karena setiap orang dalam belajar berwirausaha.
Menurut Poppy King, wirausaha muda dari Australia yang terjun ke bisnis sejak berusia 18 tahun, ada tiga hal yang selalu dihadapi seorang wirausaha di bidang apapun, yakni: pertama, obstacle (hambatan); kedua, hardship (kesulitan); ketiga, very rewarding life (imbalan atau hasil bagi kehidupan yang memukau). Sesungguhnya kewirausahaan dalam batas tertentu adalah untuk semua orang. Mengapa? cukup banyak alasan untuk mengatakan hal itu. Pertama, setiap orang memiliki cita-cita, impian, atau sekurang-kurangnya harapan untuk meningkatkan kualitas hidupnya sebagai manusia. Hal ini merupakan semacam "intuisi" yang mendorong manusia normal untuk bekerja dan berusaha. "Intuisi" ini berkaitan dengan salah satu potensi kemanusiaan, yakni daya imajinasi kreatif.
Karena manusia merupakan satu-satunya mahluk ciptaan Tuhan yang, antara lain, dianugerahi daya imajinasi kreatif, maka ia dapat menggunakannya untuk berpikir. Pikiran itu dapat diarahkan ke masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dengan berpikir, ia dapat mencari jawabanjawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan penting seperti: Dari manakah aku berasal? Dimanakah aku saat ini? Dan kemanakah aku akan pergi? Serta apakah yang akan aku wariskan kepada dunia ini?



su' � e a ��7 �? a? Tak salah jika anda menekuni bisnis aksesoris binatang.

Ide bisnis 5: Bisnis Onderdil
Sekarang ini penjualan kendaraan bermotor semakin meningkat. Tak ayal, banyak kendaraan bermotor yang ditemui di jalan raya. Otomatis, kondisi itu akan membuat permintaan onderdil atau suku cadang serta aksesoris motor meningkat. Jika Anda adalah seorang pemuda penyuka otomotif dan berminat menjalankan bisnis yang bertalian dengan dunia otomotif, usaha onderdil dan aksesoris motor merupakan salah satu pertimbangan yang pantas Anda masukkan dalam daftar usaha potensial.


fatal t� m d p ��7 �? kehidupan anak nanti. Dari sini, menurut hemat saya, legenda Malin Kundang kiranya jangan sebatas digeneralisasi peringatan keras atas kedurhakaan seorang anak kepada orang tua (ibu), tapi juga hendaknya dipahami betapa orang tua harus menjaga ucapan dan senantiasa mengampuni kekhilafan anak.

Ihwal penting berikutnya, yakni mengupayakan nafkah halalan thayyiban sesuai tuntunan syariat untuk anak, meski sering kekurangan. Sebab, diiyakan atau tidak, perilaku (mengesalkan) anak sebenarnya juga bergantung asupan yang diberikan kepadanya. Bisa ditebak kontaminasi pemanfaatan barang konsumsi dari fulus hasil suap, korupsi, dan sejenisnya terhadap cikal kepribadian anak.

Yang tak kalah penting, orang tua dituntut istiqamah meneladankan refleksi kesalihan pribadi maupun kesalihan sosial kepada anak. Figur ayah-ibu yang beakidah murni begitu kukuh, sregep beribadah, serta bersolidaritas mengagumkan jelas ikut amat berpengaruh positif membentuk karakter anak. Begitu juga sebaliknya. Dan orang tua berkewajiban pintar menyimpan rahasia.

Buku ini sempat pula menyentil pengaruh siaran televisi yang tak selamanya kondusif bagi anak. Misalnya, tayangan kompetisi talenta vokal AFI (Akademi Fantasi Indosiar) atau Indonesian Idol. Rasanya, sama halnya tontonan Idola Cilik yang sampai detik ini sedemikian menghegemoni terutama kalangan bocah, perlu dicermati berbagai elemen masyarakat. Termasuk maraknya acara infotainment yang mengobral ghibah tentang sekelumit lelaku privasi ke ruang publik.

Ringkas kata, berpredikat ayah-ibu merupakan kepercayaan luar biasa yang dimandatkan Tuhan, sehingga tak perlu terlalu berharap penghormatan dari anak. Orang tua kudu ikhlas ngopeni anak dengan memberikan yang terbaik. Perkara menghadapi kesulitan ekonomi dalam membiayainya, sungguh Tuhan Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Ikhtiar mengurus dan mendidik anak juga selayaknya direalisasikan bergaya “sersan” (serius tapi santai) lewat metode yang menyenangkan laiknya game sepenuh perhatian, cinta, serta kasih sayang; dengan fokus pada proses bukan hasil.




agap. � p n ��7 �? it mengangguk sambil tersenyum ramah. "Sejak kita pertemu pertama kali di pintu gerbang kota Madinah, sebenarnya Tuan sudah berhadapan dengan Umar bin Khattab!" ujarnya dengan tenang. Kemudian raja itu pun langsung menubruk Umar dan memeluknya erat sekali. Ia sangat terharu bahkan menangis melihat kesederhanaan Umar. Ia tak menyangka, Khalifah yang namanya disegani di seluruh negeri itu, ternyata rela menggali parit seorang diri di pinggir kota. Begitulah apabila Negara benar-benar dipegang oleh seorang yang memahami betul konsef manhaj kenabian atau manhaj yang telah melahirkan Peradaban Islam yang gemilang. Wallahu a’lam bissawaab 



Poskan Komentar