do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none;

Jumat, 19 Oktober 2012

Bersikap Adil Dan Bijaksana Dalam Bergaul menjadi sebab hidup bahagia

Rasulullah bersabda,
"Artinya : Janganlah seorang mu'min lelaki membenci seorang wanita
mu'minah. Karena, kalaupun ia tidak menyenangi suatu karakter
yang ada padanya, tentu ia menyenangi karakter lain yang ada
padanya" 1
Hadits ini mengandung dua hikmah yang agung:
1. Arahan untuk bergaul dengan isteri, kerabat dekat, teman, orang yang
bekerja sama dengan anda, dan semua yang ada keterkaitan dan hubungan
antara anda dan dia.
Yaitu, seyogianya anda tata batin anda dalam bergaul dengannya, bahwa
pasti ia mempunyai cela atau kekurangan atau hal lain yang tidak anda
sukai.
Jika anda dapati hal yang demikian, bandingkanlah itu dengan kuatnya
pertalian dan kesinambungan cinta antara anda dan dia yang wajib atau
seyogianya anda bina, dengan mengingat sisi-sisi kebaikan, maksud-maksud
baik yang bersifat umum atau khusus yang ada pada dirinya.
Dengan menutup mata dari sisi-sisi keburukkan dan memandang sisi
kebaikan, persahabatan dan tali hubungan akan langgeng dan ketenteraman
batin akan terwujud bagi anda. 2. Yaitu hilangnya kegelisahan maupun keguncangan, langgengnya ketulusan
cinta, keberlanjutan menunaikan tuntunan bergaul yang bersifat wajib
maupun sunnah, dan terwujudnya ketentraman batin antara kedua belah
pihak.
Barangsiapa yang tidak mengambil pelajaran dari hadits Nabi
ÕÎ
ƒð éJ
Ê« éÊË@úÎ
ini, tetapi bahkan ia melakukan sebaliknya, yaitu dengan
memperhatikan sisi-sisi keburukan dan membutakan mata dari melihat
sisi-sisi kebaikan, maka pasti ia akan guncang dan gelisah, dan pasti
tidaklah mulus cinta yang ada antara dia dan orang yang sudah terjalin
hubungan dengannya.
Disamping itu, sejumlah hak maupun kewajiban yang harus dipelihara oleh
masing-masing dari keduanyapun akan putus.
Banyak tokoh atau pahlawan yang mampu menguatkan hatinya untuk sabar
dan tenang saat terjadinya bencana atau malapetaka besar. Namun, di saat
menghadapi perkara-perkara remeh dan sederhana, maka justeru guncang, dan
kepolosan hatinya tidak jernih lagi.
Sebabnya adalah karena mereka dapat menguatkan hati dalam menghadapi
perkara-perkara besar, namun saat menghadapi perkara-perkara kecil, justeru
mereka biarkan diri mereka tanpa kontrol, sehingga membahayakan mereka dan
berefek buruk pada ketenangan mereka.
Orang yang berkepribadian kokoh mampu menguatkan hatinya untuk
menghadapi perkara kecil maupun besar. Ia memohon pertolongan Allah untuk
menghadapinya dan memohon agar Allah tidak menitipkan dirinya kepada
dirinya walau sekejap mata.
Maka, di saat itulah perkara kecil menjadi mudah baginya, sebagaimana
perkara besar pun menjadi mudah. Dan, ia tetap berjiwa tenteram dan berhati
tenang dan nyaman.



Poskan Komentar