do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none;

Jumat, 19 Oktober 2012

Pentingnya Komunikasi Yang Jujur dan Terbuka




Alkisah, sepasang suami istri saudagar kaya mengadakan perta ulang tahun perkawinannya yang ke-50.
Pesta perkawinan emas ini diselenggarakan amat megah dan mewah. Hampir seluruh pejabat penting kerajaan, seniman terpandang, dan para kolega sesama saudagar kaya dari seluruh negeri hadir dalam perayaan itu.

Setelah berbagai acara seremonial selesai, tibalah pada puncak acara, yaitu jamuan makan malam yang sangat mewah. Sebelum para hadirin menikmati hidangan yang disediakan, sang suami memberikan hidangan special kepada istrinya tercinta, berupa sepotong ikan mas yang di masak oleh koki terkenal di negeri itu. "Hadirin sekalian, ikan mas ini bukanlah hidangan yang mahal. Tapi, inilah kegemaran kami berdua selama 50 tahun menikah, sejak kami merintis usaha bersama, tidak memiliki apa apa, hingga keberhasilan kami berdua hingga saat ini. Ikan mas ini menjadi simbol kedekatan, cinta, dan kasih sayang kami berdua selama ini." kata Sang Suami sambil menatap mesra istrinya. Lalu, saat yang ditunggu-tunggu, sang suami mengambil piring, lalu memotong bagian kepala dan ekor ikan mas dan menyerahkan ke istri tercinta, sambil menatapnya penuh kemesraan."

Ketika sang isteri menerima pemberian itu, serentak para tamu undangan bertepuk tangan meriah sekali. Untuk beberapa saat, mereka tampak ikut terharu dengan suasana romantis nan penuh kebahagiaan tersebut.
Namun tiba-tiba suasana menjadi hening dan senyap. Samar-samar terdengar isak tangis si isteri saudagar kaya ini. Sesaat kemudian,
isak tangis itu meledak dan memecah kesunyian gedung pesta. Para tamu mendadak terdiam menunggu apa gerangan yang bakal terjadi. Sang suami tampak kebingungan. Lalu bertanya pada isterinya “Mengapa engkau menangis, isteriku?”
Setelah tangisan reda, sang isteri menjelaskan “Suamiku…sudah
50 tahun usia pernikahan kita. Selama itu, aku telah dengan
melayani engkau sepenuh hatiku baik dalam duka maupun suka. Demi kasihku padamu, aku rela hanya makan kepala dan ekor ikan mas selama 50 tahun ini. Tapi tak kusangka, di hari istimewa ini engkau masih saja memberiku bagian yang sama. Ketahuilah suamiku, sebenarnya aku sangat tidak suka bagian kepala dan ekor ikan mas ini.” kata sang isteri terbata-bata. Sang saudagar kaya ini terdiam dan terpana sesaat. Lalu dengan mata
berkaca-kaca, ia berkata,” Isteriku yang tercinta…50 tahun yang lalu saat aku masih miskin, kau bersedia menjadi isteriku. Aku sungguh bahagia dan sangat mencintaimu. Sejak itu aku bersumpah pada diriku sendiri, bahwa seumur hidup aku akan bekerja keras, membahagiakanmu, membalas cinta kasih dan pengorbananmu. Sebelum menikah, bagian yang paling aku sukai dari masakan ikan mas ini, adalah kepala dan ekornya. Sejak kita menikah, aku rela menyantap bagian tubuh ikan mas itu, demi sumpahku untuk selalu membahagiakanmu dan memberikan yang terbaik untukmu...ternyata, walaupun kita telah hidup bersama selama setengah abad, dan selalu saling mencintai, kita tidak cukup saling memahami. Maafkan saya, hingga detik ini belum tahu bagaimana cara membuatmu bahagia.”Akhirnya, sang suami memeluk isterinya dengan erat. Para tamu yang hadirpun turut tersentuh hatinya melihat keharuan ini, dan mereka kemudian bertepuk tangan dengan meriah untuk menghormati kedua pasangan ini.



Posting Komentar