do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none;

Selasa, 23 Oktober 2012

Belajar dari Pengalaman


/* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-style-parent:""; font-size: 11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-fareast-font-family:"TimesNew Roman"; mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}
Dalam perjalanan hidup kita, ada selalu aneka macam pengalaman lepas yang tampaknya dapat terlewatkan begitu saja, seakan-akan tanpa ada arti dan makna. Namun, ketika pengalaman-pengalaman itu dikumpulkan dan sejenak direnungkan, ternyata mampu memberikan kekuatan dalam langkah hidup kita selanjutnya. Seperti halnya aneka warna bunga-bunga liar di tepi jalan yang seringkali kuncup dan mekar begitu saja; pada pagi hari ia akan mekar dan pada senja harinya ia akan layu tanpa mendapatkan perhatian dari orang-orang yang melewatinya. Namun, aneka macam bunga itu tampak begitu indah dan menarik. Demikian juga pengalaman hidup kita, terkadang tanpa mendapat perhatian dan terlewatkan begitu saja, seakan-akan tiada memberi makna dan arti apa-apa dalam hidup kita.



Belajar dari Pengalaman
Di penghujung tahun ini merupakan waktu yang tepat bagi kita untuk sejenak merefleksikan dan merenungkan aneka pengalaman kita yang telah kita alami selama setahun yang silam. Aneka pengalaman yang kita alami di tahun yang akan segera kita tinggalkan ini. Pengalaman yang kita alami di tahun yang lalu merupakan segudang kumpulan pelajaran berharga bagi kita yang sanggup merefleksikan dan merenungkannya. Sebab, aneka pengalaman itu sungguh membantu kita untuk melihat di mana letak sisi baik dan buruknya segala tindakkan kita selama setahun ini. Kekurangan dan kesalahan serta aneka peristiwa negatip lainnya yang pernah kita lakukan dapat kita benahi di tahun mendatang. Sedangkan aneka pengalaman positip merupakan modal atau tolok ukur atau pegangan bagi kita untuk melanjutkan segala karya dan pelayanan bagi sesama, bangsa dan Negara kita.
Pengalaman akan menjadi berarti dan bermakna sejauh itu direnungkan dalam terang seluruh kehidupan dan kemudian kita bagikan kepada sesama. Perlu kita bersama ingat bahwa tiada satu pengalamanpun yang tidak berarti bagi perjalanan kehidupan kita. Pengalaman susah dan senang, suka dan derita, manis dan pahit, bahagia dan sedih, pengalaman di mana kita diangkat dan dijatuhkan harga diri kita dan pengalaman-pengalaman yang lain, merupakan tabungan yang berharga, yang suatu saat dapat kita petik bunga-bunganya. Dan, justru aneka penghalaman itu memberi warna tersendiri dalam hidup kita. Pengalaman jatuh hendak mengingatkan kita kepada Dia Sang pemberi hidup, mungkin selama ini kita terlalu terbuai dengan kemewahan materi hidup kita. Kita juga dingatkan agar tidak lupa akan saudara dan saudari kita yang ada di bawah. Mereka yang tinggal di kolong jembatan, mereka yang mondar-mandir di trotoar demi mendapatkan sesuap nasi dan mereka-mereka yang membutuhkan uluran tangan kita.



Harapan DI Masa Depan
Pengalaman-pengalaman di masa lalu bukan hanya sebagai suatu sejarah yang dapat dengan mudahnya kita tinggalkan begitu saja. Namun pengalaman masa lalu juga memberikan aneka sumbangan berharga dalam hidup kita menuju ke masa depan. Tidak ada masa depan jika tidak ada masa lalu. Kita harus melalui setiap titik sebelum kita mencapai titik akhir. Perjalanan pengalaman hidup kita ibarat seorang pelari yang hendak mencapai finis. Ia harus terlebih dahulu menjalani setengah jarak yang ditentukan. Lalu jarak selanjutnya harus ia tempuh secara terus menerus sampai tak terbatas. Demikian juga dengan kita, sebelum mencapai masa depan kita harus menempuh bagian awal dari suatu waktu dan secara terus menerus melalui setiap titik waktu itu.
Dalam argumentasi dialektis melawan gerak, argumentasi kontra yang disebut penalaran Achilles, digambarkan sebuah pertandingan antara pelari tercepat masa itu, Achilles melawan kura-kura. Achilles tidak akan pernah melampaui kura-kura, karena sebelum menyejajarkan diri dengan kura-kura, ia harus mencapai titik start kura-kura, titik kedua, titik ketiga dan seterusnya. Setibanya di suatu titik, kura-kura sudah jauh berjalan. Jarak antara Achilles dan kura-kura selalu berkurang, tetapi tidak pernah habis (bdk. Sejarah Filsafat Yunani. K. Bertens. Hlm 52). Hal ini juga berlaku bagi kita, sebelum kita mencapai masa depan, kita harus melalui suatu titik di masa lalu dan di masa sekarang.
Kita hidup di antara ruang dan waktu. Namun, kita tidak mengenal adanya awal dan akhir dari suatu waktu tersebut. Kita tidak tahu kapan dimulai dan diakhirinya sebuah waktu yang kita lewati. Kita hanya mengenal waktu semasa kita lahir di dunia ini, waktu kita hidup dan berjuang dalam masa sekarang dan mengenal akhirnya waktu di saat kita beralih dunia ini.
Jarum detik, menit, dan jam berlahan tetapi pasti melangkah, meninggalkan jejak dan terus melangkah bersama waktu yang tak hentinya mengalir. Sebentar lagi hari Kamis tanggal 31 Desember 2009 akan segera berakhir, meninggalkan sejuta kenangan dalam hidup kita. Masa lalu adalah sebuah pelajaran, pengalaman, dan nostalgia dan masa datang adalah suatu harapan yang patut kita perjuangkan dan kita raih.




Waktu adalah Uang
Time is money atau “waktu adalah uang.” merupakan sebuah slogan yang ingin mengungkapkan kepada kita alangkah berharganya waktu dalam kehidupan ini. Waktu di mana kita menjalani aneka pengalaman dalam hidup kita. Dari ungkapan itu, tampaklah bahwa kita tidak rela sedikitpun waktu terbuang begitu saja. Kita ingin memanfaatkan waktu yang tersedia dengan sebaik mungkin. Namun, tidak sedikit pula orang yang dengan mudahnya membuang-buang waktu yang ada dengan berbuat seenaknya saja.
Dalam segala perbuatannya manusia mengejar suatu tujuan. Ia selalu mencari sesuatu yang paling baik baginya. Tetapi ada banyak macam aktivitas yang terarah kepada berbagai jenis tujuan dan tampaknya semua tujuan itu ingin kita kejar serta kita gapai. Mampukah kita mengapai tujuan itu? Kita mampu mengapainya sejauh segala usaha dan perjuangan kita di sertai dengan harapan dan doa kepada penyelenggaraan ilahi.
Lalu mau apa dengan waktu yang masih tersisa di penghujung atau di akhir tahun ini? Adakah yang istimewa yang dapat kita jadikan sebagai sebuah pelajaran atau bahan koreksi diri kita masing-masing? Atau apakah kita melewatkan aneka pengalaman yang kita alami selama setahun silam begitu saja? Marilah kita gunakan kesempatan atau waktu yang ada dengan sebaik-baiknya, kita genggam erat di tangan dan kita jadikan sebagai suatu modal dalam mencapai suatu harapan dan tujuan hidup kita.



Poskan Komentar