do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none;

Minggu, 21 Oktober 2012

berkata dan berperilaku jujur


Kejadian ini terjadi saat aku duduk di bangku kelas 2 SMU. Aku memang tipe orang yang suka jalan-jalan traveling. Bahkan aku sering bolos sekolah untuk pergi ke suatu tempat yang aku inginkan bersama teman-temanku. Dari dulu temanku banyak laki-lakinya daripada teman perempuan sehingga sangat memudahkan bagi aku untuk pergi kemana-mana. Lagipula bagiku teman laki-laki lebih enak karena bisa menjaga daripada teman perempuan. Ini yang kesekian kalinya aku bolos bersama teman-temanku. Seperti biasa aku berangkat ke sekolah dijemput oleh teman-temanku. Tapi di dalam tas sudah ada baju ganti karena aku dan teman-temanku akan pergi ke Purwokerto. Siangnya kami pulang dan sampai rumah sore. Saat itu orang tuaku tidak curiga karena hari itu aku memang ada les yang biasanya aku pulang sampai rumah pukul 17.30. ke sudah lama aku sekolah seperti biasa, tidak bolos sekolah. Namun penyakit burukku kumat lagi yaitu aku ingin bolos. Aku ingin sekali pergi jalan-jalan ke Jogja. Kebetulan pacar aku juga kuliah di UGM Jogja. Tapi aku masih mengurungkan niatku untuk pergi ke Yogyakarta karena uang yang aku punya belum cukup. Saat itu waktu setiap tanggl 4 aku pasti diberi uang orang tua untuk membayar kuang les aku tersebut dan jumlah lumayan banyak. Akhirnya hari minggu aku pergi ke Jogja sendiri dan uang pembayaran les dan saku orangtua tentunya aku sudah minta izin orang tua aku dengan modal uang yang sudah aku tabung. Aku berangkat dari rumah dijaga, kalau naik travel jam 7 pagi. Siangnya sampai saat it aku merasa bahagia dan senang karena keinginanku ingin pergi ke Jogja tercapai dan aku bertemu dengan pacarku. Seharian aku berkeliling-keliling kota Jogja ditemani pacarku. Disana aku berbelanja berbagai macam barang dari sendal, baju, barang-barang unik. Biasanya seoran perempuan pasti tergiur untuk membeli barang-barang yang ada adalah Dan saat aku berjalan di daerah pengrajin perak disana aku melihat sebuah cincin yang indah dan bagus. Aku ingin sekali membelinya tapi uang aku yang dalam punya tidak cukup untuk ukuran anak SMU harga segitu cukup mahal. Aku berpikir antara ingin membeli dan tidak. Dan akhirnya aku putuskan untuk membeli cincin perak tersebut. Uang yang aku pakai untuk membeli cincin tersebut sebagian adalah uang pembayaran les yang belum aku bayarkan. Namun aku merasa senang karena akhirnya aku bisa membeli cincin perak tersebut. Aku pulang ke rumah dengan naik travel dari Jogja jam 19.00 dan sampai di rumah jam 22.00 malam. Selama dalam perjalanan aku merasa resah karena menggunakan uang pembayaran les untuk membeli cincin. Dua hari kemudian aku putuskan untuk berbicara jujur kepada orang tua aku dan minta maaf. Untung-untungnya aku tidak dimarahi. Mereka memaafkan dan menasehati agar tidak mengulanginya lagi. Dan aku merasa lega.

Hal tersebut dapat terjadi karena da kesempatan walaupun tidak ada niat. Dan pendirian yang kurang teguh, menganggap tidak ada yang tahu, namun padahal Tuhan mengetahuinya.

Konflik moral yang terjadi adalah aku merasa tidak tenang dan dihantui rasa bersalah karena telah berbohong kepada orang tua dan menggunakan uang pembayaran les untuk keperluan yagn lain yaitu membeli cincin perak. Merasa bersalah karena telah menyalahgunakan kepercayaan yang diberikan oleh orang tua kepada kita.



Posting Komentar