do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none;

Jumat, 19 Oktober 2012

berani untuk jujur

“Datul!!!” Panggil Bu Nadia. Hari ini dibagikan hasil ulangan tengah semester,Tepatnya Ulangan matematika. Saat aku maju untuk menerima hasil ulangan, Bu NadiaWali Kelas ku menatapku dengan tajam“Belajar yang rajin ay Tul, nilaimu Jatuh, “ Suaranya lembut tapi keras ditelingakuBenarlah, ketika ku buka kertas ulangan itu, nilaiku hanya 30 oh Tuhan ! Apa ini?Nilai 30 ! apa yang harus ku katakan pada ibu, bila ia bertanya nanti sepanjang pelajaanhari ini disekolah, aku tak bisa berkonsentrasi. Pikiranku melayang tak karuan.Saat pulang, aku langsung ke kamar, tak kuhiraukan panggilan Ibu untuk makan. Akumemutar otak untuk menutupi nilai jelekku. Ku tatap angak 30 itu lama sekali, sampaiakhrnya ku temukan cara yang jitu. Mau tahu ?Ku ubah angka tiga itu menjadi delapan dan coretan pda angka yang salah ku beripembetulan. Ah, ibu pasti tidak tahu. Pikiran ku bisa jahat juga, ya“Mana hasil ulangannya Tul?” Tanya Ibu saat aku makan. Deg.” Sebentar kuambilkan Bu,” jawabku mencoba santai“ Bagus juga ya. Tapi kok banyak kesalahan yang di betulkan begini?” Komentar Ibu“Nggak tahu ya, Bu Guru juga yang koreksi, jawabku menghindar. Beruntung ibutidak bertanya lagi. Namun hal itu sangat menyiksaku, bahkan sampai malam hari, saat akupergi tidur. Apalagi saat ku dengar suara mesin jahit ibu. Selarut itu ia masih bekerja, koktega aku membohonginya. Aku pun keluar kamar.’ Aku memeluk Ibu dari belakang danmeminta maaf atas kebohongan ku.“Ibu senang akhirnya Datul mau jujur. Ibu sebenarnya sudah curiga. Jangan diulangilagi ya sayang” kata ibu.



Posting Komentar