do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none;

Jumat, 19 Oktober 2012

Jujur

Kalau bukan apologetik, ia menjadi excuse yang "dimafhumi" dan diterima dengan segera oleh semua pihak yang berkepentingan dengannya. Dan, kondisi kemacetan yang sangat tidak tentu di Jakarta, sebagaimana perilaku warganya yang tidak berpola, membuat ungkapan "sedikit terlambat" menjadi sangat relatif. Begitu juga banyak frase-frase pendek, yang dalam kehidupan urban-modern kita menjadi gaya bahasa indah untuk mengelak dari kesalahan, untuk menjaga citra diri yang bersih, mempertahankan posisi atau jabatan, bahkan untuk mengelabui dengan cara yang tampak moralistis. Frase-frase seperti: "saya hanya menjalankan perintah atasan"; "saya sudah lakukan sesuai prosedur"; dan lainnya, telah menjadi produk bahasa yang generik untuk menyatakan hal-hal yang sebangun dengan uraian di atas. Satu hal kecil yang luput, dan ternyata akhirnya memberi dampak yang luar biasa dari tradisi itu adalah: hilang atau tergerusnya kejujuran. Sebuah istilah kuno yang kini memberi ruang yang aman dan nyaman bagi semua jenis kesalahan. demi pertanggungjawabannya pada publik, pada hidup yang telah diberikan kepadanya. Bukan saja petugas hukum diringankan kerjanya, masyarakat memberi apresiasi yang dalam, kejahatan yang berdebum jatuh statistiknya, tapi juga efek salju yang diakibatkannya pada sektor-sektor budaya yang lain.
Boleh jadi, seorang menteri yang sekonyong berani untuk jujur, menyatakan korupsinya, atau seorang mantan calon presiden jujur mengakui trik jahat yang digunakannya untuk meraih jabatan, atau intelektual yang melacurkan kapasitas akalnya demi sebuah proyek, dan sebagainya, belum tentu menjadi solusi paling komprehensif untuk menyelesaikan dunia khaotik negeri ini. Tapi mari kita yakini, kejujuran kita dalam bereksistensi (mengaktualisasi diri), bermasyarakat, berprofesi, bertanggung jawab pada jabatan, bahkan beribadah, yang harus dilakukan secara terbuka, akan kembali menyusun bata-bata peradaban Indonesia yang reruntuhannya kini sudah hampir melenyapkan wajah kultural kita yang sebenarnya. Keberanian yang super mahal itu memang harus diawali oleh karakter yang kuat. Setidaknya karakter yang berani melihat di balik hidup yang bertemperamen di muka Bumi ini, ada yang lebih berharga untuk dibela.

Posting Komentar